Sabtu, 28 Mei 2011

MAKALAH KEMUNDURAN PERADABAN KERAJAAN ISLAM PADA MASA TURKI UTSMANI


MAKALAH

KEMUNDURAN PERADABAN KERAJAAN ISLAM
PADA MASA TURKI UTSMANI

Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah                : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu        : Ely Mufidah, M.S.I.


 











Disusun Oleh :

HASAN ALI                                            202109352
LAILA ANI HIDAYATI                        202109351
MUHAMMAD MIRZA YULIANTO    202109355


JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2009
BAB I
PENDAHULUAN
Kehancuran imperium Usmani merupakan transisi yang lebih komplek dari masyarakat Islam imperial abad 18. Menjadi negara-negara nasional modern, rezim Usmani menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Balkan, Turki, Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara, dan pada abad ke-19, secara substansial Usmani memperbaiki kekuasaan pemerintah pusat, mengkonsolidasikan kekuasaannya atas beberapa propinsi dan melancarkan reformasi ekonomi, sosial, dan kultural yang dengan kebijakan tersebut mereka berharap dapat menjadikan rezim Usmani mampu bertahan di dunia modern.
Meskipun Usmani telah berjuang mempertahankan reformasi negara dan masyarakat, namun perlahan-lahan imperium Usmani kehilangan wilayah kekuasaannya. Beberapa kekuatan Eropa yang terlebih dahulu mengkonsolidasikan militer, ekonomi dan kemajuan teknologi mereka sehingga pada abad ke-19 bangsa Eropa jauh lebih kuat dibandingkan rezim Usmani.
Untuk dapat bertahan, rezim Usmani bergantung pada keseimbangan kekuatan-kekuatan Eropa. Hingga tahun 1878 kekuatan Inggris dan Rusia berimbang dan hal ini menyelamatkan rezim Usmani dari mereka, namun pada tahun 1878 sampai 1914, sebagian besar wilayah Balkan menjadi merdeka dan Rusia, Inggris, dan Austria Hungaria semua merebut sejumlah wilayah Usmani hingga ia menjadi imperium yang tidak beranggota, memuncak pada akhir Perang Dunia I lantaran terbentuknya sejumlah negara baru di Turki dan di Timur Tengah Arab.





BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEBAB - SEBAB RUNTUHNYA PEMERINTAHAN UTSMANI
Sebab-sebab runtuhnya pemerintahan utsmani sangatlah banyak, yang semuanya tersimpul pada semakin menjauhnya pemerintahan utsmani terhadap pemberlakuan syariah Allah yang menyebabkan kesempitan dan kesengsaraan bagi umat di dunia. Dampak dari jauhnya pemerintahan utsmani dari syariah Allah ini tampak sekali dalam kehidupan yang bersifat keagamaan, social, politik dan ekonomi. Serta fitnah dan cobaan yang datang silih berganti dan tiada henti yang menambah sebab runtuhnya pemerintahan utsmani.
Jauhnya para sultan di akhir-akhir pemerintahan utsmani dari syariah Allah berdampak negative terhadap kehidupan umat islam. Sehingga manusia begitu tenggelam pada kehidupan materi dan perilaku jahiliyah yang kemudian ditimpadengan kesusahan, kebingungan dan rasa takut yang berlebihan, serta pengecut. Kaum muslimin telah ditimpa kebodohan yang sangat memuncak dan mereka kehilangan identitas dirinya serta sepiritya melemah.
Sunatullah berlaku dalam pemerintahan utsmani, dimana disana telah terjadi perubahan jiwa dalam hal ketaatan dan kepatuhan dan menjelma menjadi keingkaran dan pembangkangan pada hukum- hukum Allah. Sesungguhnya penyimpangan para sultan utsmani yang padaakhir masa pemerintahan dari syariat Allah telah menimbulkan dampak yang tidak kecil terhadap umat islam. Sehingga muncullah permusuhan internal antar manusia dan kebencian merajalela. Sedangkan sedangkan kekuasaan musuh semakin menguat dan memetik kemenangan.
Sesungguhnya pemerintahan utsmani pada awal-awal pemerintahannya berjalan diatas syariat Allah, mereka begitu komitmen dengan manhaj Ahli Sunnah dalam perjalanan dakwah dan jihadnya. Selakukan melakukan syarat-syarat untuk memperoleh kemenangan dan kejayaan. Sebaliknya, di akhir pemerintahannya syarat-syarat tersebut sama sekali tidak dipenuhi dan menyimpang dari pemahamannya yang asli.
B.     PENYMPANGAN – PENYIMPANGN YANG TERJADI DI AKHIR MASA PEMERINTAHAN UTSMANI
1.      Salah satu bentuk Kebenaran Imam Adalah Adanya Loyalitas (Wala’) dan Disloyalitas (Bara’)
Pada awalnya, pemerintahan Ustmani menjalankan firman Allah SubhanahuwaTa’la yang berbunyi,



“ Janganlah orang – orang mukmin menjadikan orang – orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang – orang mukmin. “ ( Al-Imran : 28 )
Sedangkan di masa-masa akhir pemerintahannya penguasa dan para sultan bsrsikap lemah terhadap musuh-musuhnya dikalangan kafir dan menjadikan mereka sebagai pemimpin mereka. Dimana orang-orang kafir itu memang memiliki kekuatan materi yang demikian kuat dan banyak. Sedangkan kaum muslimin berada dalam posisi sebaliknya.posisi umat islam yang sangat menydihkan ini telah bayak membantu mengguncang akidah umat islam[1]. Namun demikian, akidah kaum muslimin secara umum masih tetap jokojh dalam pikiran mereka. Kaum  muslimin merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudaranya.
Sebagian di antara mereka ikut ambil bagian dalam jihad memerangi orang-orang yang mengancam islam. Dalam sekala kecil yang tidak kecil, mereka masih memiliki sifat yang pernah disabdakan Rasulullah yakni laksana satu tubuh jika salahsatu organ tubuh sakit maka yang lain tidak bisa tidur dan ikut meriang.[2]




2.   Penyempitan Makna Ibadah
Orang-orang Utsmani generasi awal memahami ibadah dengan pemahaman yang menyeluruh dan komplit.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Yakni ibadah itu hrndaknya menakup segala aktivitas kehidupan manusia.
Sesungguhnya kemajuan yang dicapai pemerintahan Utsmani pada masa keemasannya mencakup semua bidang ilmu pengetahuan, kebangsaan, pemerintahan dan militer. Sedangkan pada masa-masa akhir pemerintahan utsmani, pemahamanibadah semakin disempitkan hanya pada masalah-masalah ibadah ritual yang dilakukan sebagai tradisi yang diwariskan turun temurun dan tidak memiliki pengaruh apa - apa terhadap para pelakunya. Maka jadilah proses isolasi ibadah ritual dari sisi islam yang lain sehingga islam terasing dari bagian islam yang lain seperti jihad, hukum-hukum mu’amalat keuangan.
Penyempitan makna ibadah ini telah menimbulkan dampak negative diantaranya:
a)      Ibadah - ibadah ritual dilakukan secara turun temurun dan taklid, sama sekali tidak memiliki dampak dan faedah.
b)      meremehkannya manusia atas ibadah - ibadah yang lain.
c)      banyak memperjatikan sisi individu dan meremehkan sisi - sisi social kemasyarakatan.
d)     memposisikan ibadah sebagai sebuah kerja dan mencukupkan diri dengan formalitas - formalitasnya, bahkan ditambah dengan bid’ah dengan cara tidak mengambil sebab-sebab.

3.   Menyebarnya Fenomena Syirik Bid’ah dan Khurafat
Sesungguhnya pemerintahan Utsmani pada dua abad terakhir tenggelam dalam fenomena syirik, bid’ah dan kufarat. Terjadinya penyimpangan besar-besaran dalam tauhid Uluhiyyah yang disertai kegelapan dan kebodohan sehingga menutup hakikat agama. Cahaya tauhid menjadi sirna dan menyimpang dari jalan yang lurus.[3]
Pada akhir masa pemerintahan Utsmani terjadi pembangunan kubah-kubah kuburan, seakan-akan manusia diperintahkan untuk membagun bangunan diatas kuburan, persoalannya semakin bertambah buruk, dimana sebagian fuqaha’ memberikan fatwa bolehnya membangun kubah-kubah diatas kubur, Masalah semakin runyam karena mereka menuliskan fatwa-fatwa didalam buku-buku yang mereka karang, dimana para murid mempelajari fatwa-fatwa dalam tulisan mereka.[4]
Wabah ini menjangkit dan merayap dalam darah pemerintahan Utsmani. Kekejiannya semakin besar dan jatuhlah pemerintahan Utsmani pada kemusyrikan.

4.   Sufi yang Menyimpang
Sesungguhnya penyimpangan terbesar yang terjadi dalam sejarah umat ini adalah, munculnya kaum sufi yang menyimpang yang kemudian menjadi sebuah kekuatan yang terorganisir di dalam masyarakat islam yang mengusung pemikiran, akidah dan ibadah kekuatan dan pengaruh kalangan sufi yang menyimpang ini demikian kuat pada akhir masa pemerintahan Utsmani dikarenakan :
a.       kondisi yang demikian buruk yang dialami oleh umat ini serta realitas yang demikian getir dan pahit yang dialami oleh kaum muslimin di masa tersebut.
b.      Adanya ketidakstabilan keamanan merupakan cirri dari akhir masa pemerintahan Utsmani dimana sering kali terjadi jiwa manusia harus melayang. Akibat sesuatu yang sangat sepele atau bahkan tanpa sebab apapun.
c.       Kehidupan yang mewah ditengah kalangan sufi.
d.      Rasa cinta orang – orang Turki Utsmani pada kalangan Darwisy.




5.   Gencarnya Kelompok Aktivitas Kelompok-kelompok Menyimpan
Gerakan kelompok menyimpang ini seperti syi’ah itsna ‘Asyariah, Druz, Nushariyyah, Isma’iliyah, Qadiyani, Bahai dan sekte-sekte agama sesat yang telah mencemarkan nama islam. Gerakan ini menampakan  batang hidungya, khususnya sejak kedatangan penjajah Salibs yang telah menekuklutukkan umat islam.
Sekte - sekte ini telah menjadi sumber sandungan besar, fitnah dan kekacauan didalam pemerintahan Utsmani, sekte - sekte ini tidak pernah puas dan tidak pernah berhenti untuk melakukan konspirasi dengan musuh-musuh islam dan melakukan penghianatan terhadap kaum muslimin dalam waktu dan kondisi yang sangat sangat genting. Kaum muslimin telah merasakan bagaimana jahatnya sekte-sekte ini, tatkala aqidah kalangan Ahli Sunnah kian melemah ditengah pemerintahan Utsmani dan ditengah masyarakat luas secara umum.

6.   Tidak Adanya Pemimpin Rabani
Sesungguhnya para peneliti mengenai pemerintahan Utsmani mendapatkan bahwa kepemimpinan Rabani ini pernah ada didalam pemerintahan Utsmani di masa-masa awal, khususnya pada saat penaklukan kota konstinopel. Para ulama Rabani adalah jantung pemerintahan Utsmani dan sebagai otak yang memikirkan jalan pemerintahannya.
Sedangkan di masa - masa akhir pemerintahan Utsmani, yang di dapatkan para peneliti adalah sebuah penyimpangan yang berbahaya dalam kepemimpinan Utsmani.

7.   Penolakan Dibukanya Pintu Ijtihad
Di akhir masa pemerintahan Utsmani, seruan sntuk membuka kembali pintu ijtihad dianggap sebagai suatu hal yang sangat tabu dan dosa besar. Bahkan seruan itu dalam anggapan orang-orang yang fanatic dengan taklid dan setia dengan kejumudan dianggap sebagai kekufuran. Salah satu tuduhan yang diarahkan kepada seruan dakwah Salafiyah dan para ulamanya adalah, karena mereka sering menyerukan dibukanya pintu ijtihad. Tuduhan itu bertiup kencang, padahal pada realitanya tidak ada yang mengatakan agar pintu ijtihad dibuka. Seruan untuk menutup pintu ijtihad ini telah menjadi sesuatu yang diwariskan secara turun temurun di antara orang - orang yang demikian fanatic. Namun semangat mereka semakin berkobar di masa akhir pemerintahan Utsmani, untuk membendung siapa saja yang menyeru dibukanya pintu ijtihad.
Mereka akan senantiasa menyerang siapa saja yang terlibat dengan usaha - usaha membuka pintu ijtihad ini. Ini semua membuat orang - orang yang “ terbaratkan “ memberanikan diri dengan upaya yang kuat dan serius untuk mengimpor sistem dan metode dari Eropa.

8.   Menyebarnya Kezhaliman dalam Pemerintahan Utsmani
Kezhaliman dalam sebuah pemerintahan adalah laksana penyakit yang ada pada diri manusia, yang akan mendatangkan kematian padanya dalam jangka waktu tertentu. Maka kezhaliman yang ada di dalam sebuah pemerintahan juga akan segra nenggiringnya pada kehancuran, akibat terjadinya komplikasi penyakit di dalam pemerintahan dan hanya Allah yang tahu pasti kapan kehancuran itu akan terjadi. Namun kita tidak mengetahui kapan waktu kehancurannya secara pasti akan terjadi. Tidak mungkin bagi seorangpun tahu, sebab ketentuan hanya ada pada Allah subhanahu wa Ta’ala semata.[5]

9.   Foya-foya dan Tenggelam dalam Syahwat
Sunatullah telah berlaku bagi orang-orang yang foya-foya yang telah tertipu oleh kenikmatan dunia dan menjauhisyariah Allah, dengan dijatuhkannya kehancuran dan azab atas mereka. Salah satu sunatullah adalah dengan menjadikan kehancuran sebuah kaum akibat kefasikan orang – orang yang bermewah – mewahan setelah terjadi penyimpangan yang sangat berbahaya ini dan tenggelamnya mereka dalam foya – foya, main – main dan syahwat, pemerintahan Utsmani hancur dan kehilangan factor – factor penunjang kelestariannya.
10. Perselisihan dan Perpecahan
Sebab – sebab kehancuran suatu bangsa adalah adanya perselisihan, perbedaan yang menghancurkan umat adalah perbedaan yang tercela yakni perselisihan yang menyebabkan pada perpecahan seta tidak adanay tolong menolong antara orang – orang yang berselisih.
Kehancuran muncul akibat adanya perselisihan yang tercela sebab perselisiahan akan menjadi satu dari sekian sebab kehancuran pemerintahan Utsmani. Oleh sebab itulah, bahaya paling besar yang mengancam gerakan islam ini adalah terjadinya perselisihan yang tercela.

C.    KEMEROSOTAN KONDISI SOSIAL EKONOMI
Situasi politik kerajaan Turki Utsmani yang kurang diperparah perkembangan perdagangan global.
1.      Ledakan jumlah penduduk sekitar abad ke 16, sebanarnya arus imigrasi telah menurun. Akan tetapi problem kependudukan saat itu lebih banyak disebabkan oleh tingkat pertambahan penduduk yang sedemikian tinggi dan ditambah dengan menurunnya angka kematian akibat masa damai dan aman yang diciptakan kerajaan serta menurunnya frekuensi menakutkan.
2.      Lemahnya perekonomian dan perdagangan, kerajaan menghadapi problem internal perdagangan dan ekonomi internasional dalam negeri mulai melemah pada abad ke 16, dan pada saat yang sama bangsa Eropa telah mengembangkan struktur kekuatan ekonomi dan keuangan bagi kepentingan mereka sendiri. Salah satu dampak inflasi adalah dihapuskannya system timar sebagai basis ekonomi militer.







D.  MUNCULNYA KEKUATAN EROPA
Munculnya kekuatan politik baru di daratan Eropa disebabkan oleh beberapa penemuan dibidang teknologi yang selanjutnya mendorong bangkitnya kekuatan baru di bidang ekonomi maupun militer. Perubahan ini tidak hanya merubah format hidup masyarakat islam, tetapi juga seluruh umat manusia.

Munculnya muka baru dari wilayah Eropa telah membawa konflik dunia Barat dengan dunia Islam. Ketika Islam telah membentang dari Timur Tengah hingga Asia Selatan dan Tenggara, Afrika dan Eropa Timur, masyarakat Eropa hendak meluaskan ambisi imperialisme hingga ke wilayah yang berseberangan dengan wilayah Islam.
Pada abad kedelapan belas, kerajaan Turki Utsmani hampir tidak mampu membendung tumbuhnya kekuatan militer bangsa Eropa. Apalagi terhadap penetrasi ekonomi mereka.

















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
1.      Semakin menjauhnya pemerintahan Utsmani terhadap pemberlakuan syariah.
2.      Kaum muslimin di akhir fase pemerintahan Utsmani telah ditimpa kebodohan yang sangat memuncak dan kehilangan sensivitas diri, kehilangan identitas diri dan spiritnya melemah.
3.      Di akhir pemerintahan Utsmani telah banyak terjadi penyimpangan oleh para Sultan.
4.      Adanya penyempitan makna ibadah yang menimbulkan dampak negatif.
5.      Banyak diantara para ulama di akhir masa pemerintahan Utsmani yang tenggelam dalam kemewahan materi dan berfoya – foya.


















DAFTAR PUSTAKA

Ash-shalabi, Ali Muhammad Dr. 2002. Bangkit dan Runtuhnya Khalifah Utsmaniyah. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar.
Mughni, Syafiq A Dr. 1997. Sejarah Kebudayaan Islam di Turki. Jakarta : Logos Wacana Ilmu.
Sya’labi, Ahmad. 1985. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Pustaka Al-Husna























[1] Lihat: Al-Inhirafaat Al-‘Aqadiyah waAl-‘Ilmiyah, Ali Az-Zahrani(1/142)
[2] Sebagaimana disebutkan dalam HR. Bukhari. Kitab Adab. Bab Kasih Terhadap Manusia dan Binatang (10:438) hadis no. 6011
[3] Lihat: Al-Inhirafaat Al-‘Aqadiyah waAl-‘Ilmiyah (1/271)
[4] Lihat: Majmu’ Al-Fatwa (27/162)
[5] Lihat: Al-Sunnah Al-Ilahiyyah,hlm. 121.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar